
Di balik dentingan senar gitar bambu yang khas, tersimpan cerita panjang seorang inovator asal Cimareme, Bandung Barat, bernama Adang Muhidin. Ia bukan sekadar pembuat alat musik, tetapi sosok yang berani melawan stigma lama bahwa bambu hanyalah material murah yang identik dengan kemiskinan. Melalui brand Virageawie, Adang mengubah bambu menjadi instrumen berkelas yang mampu bersaing di panggung dunia.
Kecintaan Adang pada bambu bermula dari pengalamannya saat menempuh studi di Jerman. Di sana, ia melihat bagaimana bambu dihargai mahal dan dikembangkan dengan serius dalam berbagai bidang, termasuk teknologi. Sementara di tanah air, bambu justru kurang dimanfaatkan secara maksimal. “Indonesia salah satu penghasil bambu terbesar di dunia, tapi produk olahannya masih kalah nilai jual. Dari situlah saya terpanggil untuk berbuat sesuatu,” ujar Adang.
Berangkat dari kegelisahan itu, Adang membentuk Indonesian Bamboo Community (IBC) pada 2011. Komunitas ini awalnya hanya bereksperimen dengan pertunjukan musik bambu, sebelum akhirnya masuk ke tahap yang lebih berani: membuat gitar berbahan bambu.
Gitar Bambu dengan Karakter Suara Unik

Bagi Adang, gitar bukan hanya alat musik, melainkan medium pembuktian bahwa bambu bisa “naik kelas”. Melalui berbagai riset, ia menemukan bahwa jenis bambu tertentu—seperti gombong, betung, hitam, dan apus—memiliki struktur kuat sekaligus potensi akustik alami. Dari sanalah lahir gitar bambu dengan karakter suara yang berbeda dari gitar kayu konvensional.
“Gitar bambu punya suara lebih kering, unik, dan kadang menghasilkan nuansa chorus ganda yang tidak bisa ditemui pada gitar biasa,” jelasnya. Karakter ini bukan kelemahan, justru menjadi identitas khas yang membuat gitar bambu Virageawie diminati musisi dalam dan luar negeri.
Membuat gitar bambu bukan perkara mudah. Adang dan timnya harus melewati proses panjang mulai dari pemilihan bambu berusia tepat, pengeringan, hingga pembentukan body dan neck gitar. Semua masih dikerjakan dengan sentuhan tangan, agar detail dan keunikan material tetap terjaga.
Dalam setiap desain, Adang berusaha tidak menghilangkan jati diri bambu. Tubuh gitar tetap menampilkan lekuk alami batang bambu, seolah mengingatkan bahwa instrumen ini lahir dari kekayaan alam nusantara. “Saya ingin bambu hadir bukan sekadar sebagai bahan pengganti kayu, tapi punya ruhnya sendiri,” katanya.
Maju dan Berkembang dengan Virageawie

Kini, melalui Virageawie, gitar bambu buatan Adang sudah menembus pasar internasional. Produk-produknya berhasil sampai ke Jepang, Amerika Serikat, Filipina, hingga Eropa. Bahkan, beberapa musisi mancanegara kepincut dengan keunikan suara yang dihasilkan.
Tak berhenti di situ, Adang aktif mempromosikan gitar bambu melalui berbagai festival musik, baik di dalam maupun luar negeri. Dari panggung-panggung inilah gitar bambu Virageawie semakin dikenal, sekaligus memperkenalkan bambu sebagai identitas budaya Indonesia yang modern dan berkelas.
Bagi Adang, Virageawie bukan sekadar brand, melainkan sebuah gerakan. Ia ingin menunjukkan pada dunia bahwa bambu bukan hanya bagian dari tradisi, tapi juga bisa menjadi ikon inovasi bangsa. “Kalau Jepang punya shamisen dan Spanyol punya gitar flamenco, kenapa Indonesia tidak bisa dikenal dengan gitar bambunya?” ucap Adang penuh semangat.
Inovasi gitar bambu ini bukan hanya tentang musik, tetapi juga tentang keberlanjutan, pelestarian budaya, dan kebanggaan pada potensi lokal. Dari bilah-bilah bambu yang dulu diremehkan, kini lahirlah suara baru yang membawa nama Indonesia ke pentas global.

